Tuesday, November 7, 2017

Fragmen

#1

"Ya, aku bukannya nggak suka. Suka banget malah. Tapi aku tahu diri, kok,"
"Kok gitu?"
"Nggak mau terjebak untuk kedua kalinya,"
"Apa hubungannya?"
"Hmm... nggak tahu..."
"Jadi?"
"Kok, jadi?"
"Suka atau enggak?"
"Ya... suka... kan aku udah bilang,"
"Terus?"
"Ya udah,"
"..."
"Aku sadar diri. Dia emang orang yang mudah dicintai dan mencintai. Sesederhana itu. Makanya aku jadi tahu diri,"
"Aku bingung kamu ngomong apa,"
"Sama, sebenernya aku juga bingung daritadi aku ngomong apa. Kita ngomongin apa,"


#2
"Aku cari uang yang banyak biar bias makan yang enak-enak terus! Tipikal banget ya, cuman ngurusin perut sendiri!"
"Kalau makanan enak berarti kamu mikirin lidahmu dong,"
"Hehehe... jadi bukan perut ya?"
"Bukan, kamu cuman nggak mau merasakan sesuatu yang buruk. Setelah semuanya buruk, lidahmu jangan,"
"Sah-sah aja berarti kalau aku cari uang banyak biar bias makan enak?"
"Kenapa enggak?"


#3
"Aku kangen sama dia,"
"Yaudah ketemu sana,"
"Hmmm... nggak mau, emang aku siapanya dia? Dia siapanya aku?"
"Ah, ribet!"


#4
"Kemarin ada orang nawarin aku brosur perumahan,"
"Lalu?"
"Aku mau tinggal di hutan!"
"Ya perumahan yang ditawarin ke kamu itu dulu bekas hutan,"


#5
"Dari kemarin lihat berita soal penggusuran teruuuusss.... Aku mau tinggal di laut aja!"
"Jangan di laut, di sana banyak plastik!"


#6
"Kamu tahu soal anjing yang mati di luar angkasa?"
"Enggak, emang ada?"
"Ada,"
"Eh, jangan mengada-ada,"
"Sungguhan, ada. Aku nggak bohong! Suer! Namanya Laika,"
"Terus?"
"Aku nggak bisa bayangin rasanya mati sendirian dan jauh dari keramaian. Di tempat yang kamu nggak tahu ujungnya pula, di luar angkasa,"
"Hmm... terus?"
"Namanya mirip aku, ya. Anjingnya juga seorang perempuan,"
"Kamu mau mati di luar angkasa?"
"Kalau bisa,"
"Katanya nggak mau bayangin,"
"Biar bisa bayangin,"


#7
"Aku habis baca buku. Dua kalimat terakhir, ngeri!!!"
"Emang gimana?"
"Ia tak tahan kesepian. Ia memilihi kematian,"
"Bukannya mati memang suatu kesepian yang abadi?"


#8
"Tiba-tiba aku pengin jadi gurita,"


#9
"Kemarin aku pantai. Dan menemukan seekor paus terdampar. Kamu tahu maksudnya?"
"Nggak. Emang kenapa kalau ada paus terdampar? Kebawa arus paling."
"Ada sebagian ikan yang hidupnya melawan arus tahu. Meski badai sekalipun."
"Lalu?"
"Paus itu mau bunuh diri,"
"Yang benar?"
"Iya, paus itu seolah-olah terdampar di daratan, tapi sebenarnya pengin bunuh diri. Dia pengin mati,"


Friday, June 30, 2017

Satu-satunya yang tersisa


Membangun keyakinan kembali itu susahnya minta ampun. Aku nyaris tak mempercayai semua hal. Satu-satunya yang kupercayai ya cuman Tuhan. Meski kepercayaan itu masih diiringi dengan separuh prasangka baik-buruk – tidak menyeluruh baik. Kadang-kadang, ada prasangka jelek yang entah kenapa susah sekali dihilangkan dan timbul tenggelam. Rasa-rasanya, aku sudah terlalu skeptis. Dan sikap seperti ini bisa membuatku menjadi individu yang arogan. Sebab, aku tak lagi mempercayai apapun.

Persoalan dunia, aku sudah tak percaya lagi kalau dunia ini semakin memburuk atau bahkan (bisa membaik). Sedari dulu, dunia ya begini, rusak. Entah rusak karena manusia atau secara alami dan “usia” memang sudah harus rusak.

Rasa-rasanya, aku sudah tak punya jiwa lagi untuk mempercayai kemenangan dari pihak tertindas. Aku nyaris memaklumi bahwa semua bentuk penindasan itu adalah keniscayaan yang harus terjadi. Mengutip pemaknaan Max Lane terhadap penggunaan istilah tragedy, semua bentuk penindasan ini bisa saja adalah tragedy – bukan bentuk kesengajaan yang dilakukan oleh para aktor-aktor tertentu.

Petani-petani yang digusur, pasar yang nyaris mati, kriminalitas yang semakin mengudara, penjajahan terhadap kaum buruh oleh para kapital, pembunuhan di beragam tempat, perang-perang di wilayah Timur Tengah, ikan-ikan yang mulai mati di lautan, pohon-pohon yang satu per satu tumbang, kenihilan kumbang dan kepik di kota-kota, ketiadaan kupu-kupu, harimau yang punah, manusia yang semakin beringas, dan semua bentuk kejahatan. Semua bentuk jahatan yang membludak, melukai nurani, menghancurkan harapan, meluluhlantakkan semua keyakinan. Termasuk keyakinan yang aku miliki.

Aku bahkan mulai menggugat konsep negara, dan sungguh-sungguh ingin menjadi bajak laut. Aku sudah tak percaya lagi apa itu konsep kebangsaan dan kenegaraan. Jika orang-orang masih menggaungkan slogan “mengharumkan nama bangsa”, aku selalu berpikir bahwa negara ini kepalang busuk untuk berbau wangi. Ketika orang-orang berpikir bahwa konsep negara berarti melindungi. Aku selalu berpikir sebaliknya. Apanya yang melindungi? Negara membuat masyarakat tercerai-berai, mengidap konflik, merampok semua pihak dengan dalih pembangunan. Rasanya aku sudah dalam tahap securiga itu dengan pemerintah. Sampai tak mempercayai lagi seluruh elemen-elemennya. Daratan membubuhkan luka yang teramat dalam bagiku. Begitu dalam, sampai rasanya ingin tinggal di laut.

Tinggal di laut lepas bersama ikan-ikan yang masih bertahan hidup “mati-matian” akibat sampah-sampah. Atau jika lautan yang luasnya bermil-mil itu mulai dikuasai oleh arogansi manusia itu – aku berharap segitiga Bermuda memang bisa membawa seorang pelaut dan kapalnya pergi ke luar angkasa.

Mencari kehidupan baru yang lebih baik.

Namun, lagi-lagi, memangnya: kehidupan yang lebih baik itu memang sungguh-sungguh ada?

Lagi-lagi, aku kembali tidak mempercayai semua itu. Keyakinan tentang “hidup yang lebih baik,” dan “dunia yang lebih baik” nyaris sirna. Kemudian yang terpikirkan adalah kehidupan setelah mati nanti. Tapi, bukanlah setelah mati nanti, setelah usia kita usai, yang diminta oleh Tuhan adalah laku kita di dunia. Apa yang ditagih nantinya, bisa jadi bukan persoalan ritual peribadatan saja – bukan sekadar berapa kali salat dan puasa.

Adapun, aku tak pernah bisa membayangkan bagaimana kehidupan setelah mati. Bukan soal surga dan negara yang menghantuiku. Lebih dari itu, setelah mati nanti, bukankah kita tak akan mati lagi? Itu artinya kita hidup selamanya. Menjadi abadi. Menjadi abadi. Menjadi abadi. Aku tak bisa membayangkan menjadi abadi. Menjadi abadi entah di neraka atau surge. Aku tak bisa membayangkan bahwa “usiaku” ternyata tak pernah usai meski dalam versi yang lain.

Lebih dari itu, Tuhan mungkin akan bertanya, “Apa yang akan kamu lakukan di dunia untuk menjadikannya lebih baik?”

Aku tak pernah berpikir bisa menjadikan dunia lebih baik, memimpin hidup yang lebih baik bagi orang lain. Tapi, di tengah-tengah seluruh krisis kepercayaan dan keyakinan tentang semua itu, aku mulai meyakini satu hal. Dan mungkin, satu hal itu adalah yang tersisa dari semua semangat yang aku pupuk sedari dulu.

Menjadi sesungguhnya dan sepenuh-penuhnya manusia yang baik.

Yang ketika melihat pohon-pohon mulai tumbang dan dijadikan kertas, aku menanam satu bibit di depan halaman rumah. Yang ketika ikan-ikan mulai mati karena sampah plastik, aku berusaha sekuat mungkin mengurangi atau tidak menggunakan sama sekali plastik. Yang ketika buruh-buruh dan petani-petani diperlakukan semena-mena, keadilan atas keduanya harus tetap aku suarakan – meski hanya dalam sebait puisi. Yang ketika perang-perang tak juga kunjung berhenti, tangisan anak-anak mulai meradang, perempuan dan laki-laki mati tertimbun reruntuhan gedung-gedung, harus selalu ada doa yang terus terpanjatkan – sepanjang waktu – seawet mungkin. Meski, terkadang aku pribadi masih mempertanyakan kepada Tuhan kenapa perang-perang itu masih terjadi, aku masih yakin dengan doa-doa yang selalu terdengar. Sebab hati bisa jadi adalah benda yang memancarkan gelombang. Dan Tuhan selalu tahu bagaimana merengkuh semua gelombang.

Dan tentang sebab yang lain, bahwa doa adalah selemah-lemahnya usaha yang meski upayanya tak terlihat, Tuhan tahu kita sedang berusaha – menangis atas semua pelanggaran kemanusiaan. Marah atas kematian orang-orang tak bersalah. Dan oleh karenanya, Tuhan tahu bagaimana hati nurani kita digedor meski reaksinya hanya sekadar doa.



Tuhan menyaksikan seluruh niat baik, meski kemudian orang-orang di sekitarmu berkata bahwa apa yang kamu lakukan adalah kesia-siaan.

Tetapi, Tuhan menyaksikan seluruh niat baik. Tuhan melihat semuanya. Sekecil apapun. Tuhan melihatnya.

Dan jika seluruh upayaku terhadap kemanusiaan adalah kesia-siaan bagi manusia lainnya karena tak memiliki dampak besar, Tuhan tahu segalanya. Tahu segalanya. Tahu segalanya.





Bukankah, kita memang tak perlu membuat orang-orang tahu apa yang kita lakukan selama ini?

Meski belum bisa menciptakan dunia yang lebih baik, mari sama-sama tak berkontribusi atas semua kerusuhan-kerusuhan yang terjadi sebelumnya. Seluruh keruwetan yang terjadi masa lampau.

Wednesday, June 28, 2017

Tentang Manusia dan Kemanusiaan Bagian 1


“Mbak, jangan kaya orang bego ya kalau di Jakarta. Pokoknya hati-hati. Jangan percaya siapapun. Selalu waspada,”

Hampir semua sopir gojek yang mengantar saya ke stasiun atau bandara mengatakan hal demikian sewaktu tahu saya mau ke Jakarta. Lugas sekali ngomongnya. Bahkan terkesan agak terburu-buru. Seolah-olah saya harus segera tahu dan membuat banyak siasat yang jitu untuk mengatasi semua ketakutan-ketakutan dan ancaman-ancaman mengerikan setiba di Jakarta.

Kadang-kadang, saya jadi berpikir, apa yang perlu ditakuti dari Jakarta? Mengapa setiap kali kaki saya melangkah menuju ke sana, orang-orang selalu menasihati dengan nada setengah takut dan was-was. Kalau harus memilih, saya jauh lebih takut dengan selokannya yang berwarna hijau, sampah-sampah yang berserakan, air yang katanya bersih tapi cuman oplosan kaporit, kemacetan, dan kegaduhan-kegaduhan lain yang awet dalam hiruk-pikuk.

Tetapi, dibandingkan ketakutan setengah mati akibat air kotor dan sanitasi yang mengerikan, para sopir gojek itu kembali mengingatkan kepada saya, “Jangan percaya siapapun. Jangan percaya siapapun,”

Mengapa saya tak boleh percaya pada siapapun? Mengapa saya harus percaya pada manusia?

Pertanyaan ini berputar-putar di kepala. Seperti puluhan burung yang terbang mengitari gedung kosong di senja hari. Tak berhenti dan mencicit terus-menerus dengan begitu keras.

Pada satu sisi, saya menemukan kemanusiaan, di sisi lain, saya kehilangan hal itu. Saya mendapatkan sekaligus kehilangan semua hal tentang kemanusiaan dalam satu waktu. Satu waktu yang padat dan sekejap.

Mengapa, toh, saya mesti takut pada manusia-manusia yang sama-sama berkeliaran dalam kepadatan kepala? Mengapa saya berhati-hati pada manusia yang lainnya? Mengapa saya tak boleh mempercayai satu pun.

Lalu, saya berpikir, jangan-jangan kemanusiaan tidak selalu hal-hal rumit tentang kebaikan. Dia hal-hal sederhana tentang baik dan buruk.

Ini membuat saya selalu mempertanyakan kembali apa itu kemanusiaan. Apakah betul kemanusiaan adalah konsep yang agung, sisi kebaikan yang adiluhung dari manusia? Apakah jika kita melantunkan kemanusiaan di jalan-jalan yang mulai banyak berserakan mayat-mayat, kita telah berjuang demi manusia? Banyak sekali pertanyaan di kepala saya – tentang apa itu kemanusiaan. Apakah kemanusiaan – selalu, selalu, dan selalu tentang semua sisi baik manusia – ataukah kemanusian adalah konsep yang menyeluruh tentang manusia – semuanya – semua sifat-sifatnya yang tak pernah bisa kita prediksi. Sisi baik dan buruk. Mulia dan jahat. Sopan dan urakan. Rapi atau serampangan. Apakah kemanusiaan hanya meliputi yang baik atau mencakup semuanya?

Dulu, sewaktu melakukan pengabdian kampus di daerah Jawa Barat, saya berjalan sendiri berkilo-kilometer jauhnya untuk mengambil gambar dan video. Seseorang pernah bertanya pada saya kenapa saya tidak takut? Rasanya, mengeksplorasi dunia bagi saya adalah perihal menemukan orang-orang baik – yang terbukti – pada waktu itu—bertebaran di mana-mana. Saya katakan padanya, bahwa hal-hal seperti itu untuk melegakan hati saya bahwa kasih itu ada di mana pun. Meski kita sendirian. Tanpa seorang pun.

Tapi di Jakarta, dan mitos-mitos yang menghidupinya dari waktu ke waktu selalu menjadi suram. Membuyarkan semua konsep kemanusiaan yang agaknya selalu terdengar baik. Dan kemudian, apakah kemanusiaan memang sesuatu yang sungguh-sungguh baik sementara manusia tercipta dari dua hal, baik dan buruk? Manusia tak sepenuhnya baik dan tak sepenuhnya buruk. Lalu, mengapa harus kita namai konsep yang mengagungkan kemuliaan, hati nurani, dan kasih yang universal dengan istilah kemanusiaan? Coba, mulai tanyakan pada diri kita sendiri, apakah kita benar-benar baik dan punya rasa kemanusiaan.

Ingatkan saya tentang keturunan pertama Adam yang sudah tahu bagaimana caranya membunuh saudara sendiri. Kadang-kadang, memahami kemanusiaan memang sulit sekali. Dia hakikat yang cukup seru soal bertahan hidup. Dan kita tak pernah tahu – ide-ide gila seperti apa yang tercetus secara mendadak tentang bertahan hidup. Tentu saja, hidup seperti apa yang mereka konsepkan, kita tak pernah tahu. Entah hidup sederhana atau hidup sejadi-jadinya, semenjadinya, menjadi-jadi.

Saya memikirkan nasihat sopir gojek itu di sepanjang perjalanan, di beribu-ribu kaki di atas permukaan laut atau di atas derit rel yang kokoh.

Saya mendapat nasihat dari manusia untuk manusia – untuk menghindari manusia yang lain. Ya, kita manusia?

Kita menyebut manusia yang memperkosa anaknya sendiri sebagai hewan

Kita menyebut seseorang yang membunuh saudaranya sendiri sebagai iblis

Padahal iblis tak pernah membunuh siapapun.

Siapa yang dibunuh oleh Iblis?

Iblis tak pernah saudaranya sendiri. Iblis juga tak pernah membunuh massal kaumnya. Manusia yang begitu. Merekalah yang seperti itu. Tapi, mereka menyalahkan iblis.

Mengapa kita harus menyebut hal-hal yang jahat dengan penyebutan lain tanpa melibatkan diri kita sendiri? Melibatkan manusia?

Lama-lama, kita mungkin akan mempercayai, bahwa selain kita memang terbagi antara baik dan buruk, kita selalu menyalahkan pihak lain atas kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh manusia. Kita selalu menyucikan diri atas tindakan-tindakan buruk yang dilakukan oleh manusia. Bukan hewan, bukan pula iblis.

Manusia, ya manusia. Kita manusia.

Sebentar, kita manusia?

Ya, kita manusia.

Dengan seluruh baik-buruknya. Kita bukan makhluk satu dimensi. Bukan gambar kartun. Kita makhluk tiga dimensi, yang punya banyak sisi.

Lalu, saya sedang bingung. Galau setengah mati. Dulu, waktu seseorang tanya kepada saya mau jadi apa? Saya bilang padanya, saya pengin jadi manusia. Sepenuhnya manusia. Kini saya ragu harus menjawab seperti apa.

Lain waktu, kalau ada yang bertanya lagi, saya akan jawab: “Mau jadi orang kaya,”

Ngomong-ngomong, mukaku kaya orang bego, po?

Sunday, June 25, 2017

Pertanyaan tentang Menikah


“Kalau panjenengan mau menikah kapan? Masih lama atau sebentar lagi?”

“Sinten?” gagapku bertanya.

“Nggih panjenengan,”

“Oh, masih lama, hehehe,” jawabku sambil tertawa. Meski kedengaran berbeda. Tidak loss, tidak jujur, dan seperti dipaksakan.

***

Sejujurnya, saya selalu merasa geli ketika ditanyai perihal menikah. Rasa-rasanya saya belum cocok mendapatkan pertanyaan seperti itu. Rasa-rasanya saya belum pantas. Meskipun, secara usia, saya sudah legal untuk melangsungkan pernikahan. Teman-teman seusia saya, bahkan yang lebih muda saja sudah mendului menikah. Beberapa yang lain sudah punya momongan. Sayangnya, buat saya pernikahan itu perjalanan yang panjang. Bagi saya, menikah adalah sebuah keputusan terbesar untuk menjadi dewasa. Kalau tak salah ingat, dosen saya yang pernah bilang bahwa menikah adalah perkara menjadi dewasa. Orang-orang yang memutuskan menikah adalah mereka yang (berani) memutus masa “kanak-kanaknya”, memasuki satu fase yang dewasa, mendewasakan, menyenangkan, sekaligus mengerikan di sisi yang lain. Yang direstui Tuhan untuk bisa menikah lebih muda mungkin telah memahami bagaimana bersikap dewasa di hadapan orang lain. Dan buat saya, secara personal, tanpa melibatkan individu dan kolektif mana pun, meyakini bahwa saya belum cukup dewasa menghadapi gagasan-gagasan orang lain.

Bagi saya, relasi pernikahan adalah perkara negosiasi, kompromi, dan diskusi. Kesepakatan-kesepakatan yang muncul tidak terjadi secara sepihak maupun diputuskan secara otoritarian. Sayangnya, banyak relasi pernikahan yang mewujud menjadi dominasi pihak laki-laki atau perempuan maupun sebaliknya, kepatuhan hakiki dari salah satu pihak. Jika hal ini terjadi, tentu pernikahan adalah kerangkeng, pasung, sekaligus penjara baru bagi yang menjalankannya.

Menurut saya, kita tetap harus memiliki diri kita masing-masing. Setelah menikah, meski kita telah menjadi bagian dari hidup orang lain dan begitupun sebaliknya, seharusnya tidak ada klaim kepemilikan dari salah satu pihak seolah-olah kita adalah barang yang bisa dipergunakan. Juga, tak ada klaim saling memiliki sehingga hasrat menjajah muncul sewaktu-waktu. Pada dasarnya, bagi saya, pernikahan tidak pernah menunjukkan milik siapa kita dan siapa milik kita. Sebab, sungguh, kita tak pernah benar-benar memiliki sesuatu dan tak pernah menjadi milik siapapun kecuali Tuhan. Begitu pula pasangan masing-masing. Kita tak pernah memilikinya. Tak pernah benar-benar memiliki sampai memiliki hak untuk mengatur-atur, berbuat semena-mena, tanpa memanusiakan pasangan sendiri. Menikah juga perkara menjadi manusia. Karena memanusiakan pasangan sendiri adalah ujian terberat dibandingkan memanusiakan tetangga-tetangga, rekan-rekan kerja, maupun sederet pengemis yang meminta uang di jalan. Yang perlu diingat adalah bagaimana kita mengikat janji dan berkomitmen. Pernikahan tetap mewujud menjadi suatu hal yang sakral tetapi sebisa mungkin menjauhkan diri dari pengistilahan saling memiliki sehingga saling menyakiti menjadi suatu hal yang lazim – atau dilazimkan atas dasar kepemilikan. Bagaimana pun, kita tetap individu yang berdiri sendiri. Memiliki kesadaran kita masing-masing. Berhak atas gagasan yang kita punyai. Dan juga, bebas untuk berpikir.

Bagi saya, pernikahan bukan perkara mudah. Bukan hanya persoalan jodoh yang belum datang. Lebih dari itu, menuntaskan urusan pribadi bukan sesuatu yang mudah. Hal ini berbeda dengan “ingin bersenang-senang dulu sebelum menikah,”. Seolah-olah menikah bukan sesuatu yang menyenangkan dan terlampau mengerikan sehingga tak terbayang dalam pikiran. Seolah-olah menikah adalah bentuk kesusahan. Pernyataan seperti ini juga cenderung egois. Karena yang kita tahu hanya bagaimana membuat diri kita senang. Padahal, di lain pihak, ada bagian dari diri kita yang menjadi porsi bagi orang lain. Jadi, ketika ditanya mengapa tak kunjung menikah, saya tak akan menjawab ingin bersenang-senang dulu. Tetapi saya ingin menyelesaikan semua perkara individu yang sepertinya tak akan bisa selesai jika dijeda oleh pernikahan. Saya ingin menuntaskan semua masalah pribadi saya. Semua perkara dalam pikiran yang tak  terkendali.



Suatu saat, jika semua telah selesai, saya akan mencoba mencari perkara yang lain, membikin masalah baru, tentu bersama orang yang tepat. Sampai mati.

Wednesday, June 21, 2017

Hehehe... Hhh

"Aku tak pernah merasa segila ini sebelumnya. Maksudku, dulu aku pernah menjadi gila. Tapi tak pernah segila ini,"



Dan aku tak pernah merasa sefrustasi ini... hanya karena menginginkan seseorang,
untuk menjadi teman bicara.


Hehehe... Hhh